Kita Masih Muda, Bung!

Oleh: Bambang Prayitno

Pukul 03 dinihari, kami sampai di Utan. Suasana begitu gelap. Udara tak begitu dingin. Kepala saya benar-benar pusing. Kata orang, jalan Dompu menuju Utan itu berkelok-kelok. Banyak tikungan mati istilahnya. Kami sampai di rumah bang Fahri. Di sebuah kota kecamatan yang bernama Utan. Beberapa orang rumah masih terjaga. Mereka memasak makanan. ‘Request’ daging rusa yang sempat terlontar oleh salah satu kami, bakal jadi menu utama. Kami sebenarnya tak enak hati, tapi apa mau dikata, rusa sudah meloncat ke kuali.

Kami diarahkan oleh salah seorang tuan rumah. Mungkin masih bertalian keluarga dengan Fahri. Ia menunjuk sebuah ‘rumah panggung’ yang cukup tua di sebelah kiri. Persis bersebelahan dengan rumah utama. Bentuknya sederhana. Bahan tiang penyangganya dari kayu jati. Dindingnya dari semacam sirap atau anyaman dari bambu. Atapnya terbuat dari genteng tanah.

Inilah rumah panggung khas Sumbawa. Saat siang hari, saya diceritakan. Bahwa rumah ini banyak menjadi saksi bisu. Kisah dan kenangan tentang keluarga, teman dalam perjalanan dakwah dan juga partai. Terentang di separuh usia. Mungkin itu sebabnya, Fahri tak juga merobohkan rumah ini. Ada aura cinta yang hidup dalam rumah ini.

Kami lanjutkan istirahat yang ‘nanggung’ karena waktu subuh hampir tiba. Sebagian berbaring atau merapikan dan menata barang. Sebagian mengkapling tempat. Saya sendiri melihat-lihat suasana di sekitar dan di dalam rumah tua itu. Di bagian bawah atau kolong panggung, ada semacam bale atau tempat tidur untuk berkumpul keluarga. Mungkin sering dipakai untuk begadang dan meminum kopi bersama saat ada acara. Di bagian depan beranda ada kursi-kursi untuk bersandar begitu kita sampai di rumah.

Di bagian dalam rumah, kita masuk ke ruang tengah yang dindingnya dari anyaman bambu. Di sudutnya ada tempat tidur. Di sudut lainnya ada televisi tua. Ada lemari yang sudah agak miring dan tertumpuk di dalamnya buku-buku usang. Sebagian saya baca judulnya. Ada buku lama. Juga ada yang kekinian. Misalnya, buku “Bersama 6 Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin”, sebuah buku singkat tentang cerita hidup pemimpin Ikhwan generasi awal. Lemarinya agak miring.  Kipas angin besar disampingnya berputar cukup deras.

Dapur rumah yang seharusnya terhubung dengan ruang tengah sudah tak ada. Dapur itu telah berubah menjadi kamar mandi. Kamar tidur hanya satu buah. Didalam kamar tidur, selain tempat tidur, ada juga kursi yang bisa berubah fungsi menjadi ranjang. Rumah ini memang diperuntukan bagi tamu yang datang atau menginap. Kemungkinan juga dipakai untuk rapat tentang apa saja.

Waktu subuh tiba. Seorang kawan rombongan membangunkan saya. Rupanya saya terlelap di lantai ruang tengah bersama beberapa yang lain. Kami tunaikan subuh berjama’ah. Lalu selanjutnya sebagian berbaring dan membaca wirid. Atau tidur lagi. Tapi memang, perjalanan Dompu ke Utan menyita tenaga kami. Pusing yang saya rasakan saat terbangun di jam tiga tadi, masih saya rasakan. Kami lanjutkan istirahat sampai kira-kira pukul setengah delapan.

Seorang kawan sekali lagi membangunkan saya. Ini masih jam tujuh pagi. Seharusnya jadwal kami di pagi ini adalah melihat pemandangan muara dan pantai dari Villa Yanti dan berenang di laut. Kondisi tak memungkinkan. Saya perkirakan, jadwal akan bergeser. Kami belum membersihkan diri dan sarapan. Dengan terburu-buru kami semua persiapkan diri lalu turun ke bawah, ke sebuah garasi terbuka yang tertutup atap rumah utama.

Dibawah sudah ada Fahri dan beberapa keluarganya. Juga sehamparan makanan diatas meja besar. Rupanya isinya singang. Ini seperti menu wajib bagi orang NTB khususnya Sumbawa. Saya sudah ceritakan di bagian sebelumnya, singang ini masakan ikan. Seperti pindang. Ada juga makanan lain; urap sayur dan -kemungkinan- daging rusa. Kami makan dengan lahap. Masakannya enak. Terutama daging ikan yang ada dalam singang. Daging rusanya juga lembut. Tapi daging rusa terkenal lembut. Urapnya juga segar. Kunci enaknya urap, selain soal kelapa parutnya, juga bahan sayurnya. Kalau bahannya segar, masakannya jadi enak.

Selesai kami makan, ibunya Fahri keluar dari dapur. Serta-merta saya ajak foto bersama. Ibu tertawa bahagia. Saya ikut senang. Saya cium punggung tangannya. Inilah ibu yang melahirkan anak muda yang membanggakan kami. Saya tanya ke beberapa keluarga, dengan bisik-bisik. Namanya Nurjannah. Cahaya Syurga. Semoga tetap menjadi ibu yang memberikan cahaya bagi anak-anaknya menuju syurga.

Tak lama, keluarlah jagoan kita. Seorang tua yang masih terlihat gagah. Sudah mulai membungkuk badannya. Tapi cahaya matanya masih bersinar. Ia nampak tua. Tapi senyumnya tak pernah lepas. Seolah-olah ingin bercanda dan bercerita dengan kami yang muda-muda. Melihat penampakannya, saya taksir, waktu muda, abahnya Fahri memang gagah.

Salah satu dari kami bertanya; “Abah umur berapa?”. Dengan meyakinkan, beliau menjawab; “Masih muda. Belum tumbuh gigi”. Kami terpingkal-pingkal. Ini jawaban paling meyakinkan. Beliau masih santai. Duduk seolah tak melihat gelak kami yang hampir terguling dan mata kami yang mulai berair. Kami masih penasaran akan kejutan lain. Dan ketika foto masa muda bersama ibu diperlihatkan, semeyakinkan yang sebelumnya, beliau berkomentar atas foto tersebut; “Saddam Husein”. Hahaha. Dua kosong nih.

Tiba-tiba Fahri masuk dan keluar lagi dengan membawa foto abah saat masih muda. Mungkin masih bujang. Foto hitam putih seorang anak muda gagah yang menyarungkan keris di bagian depannya. Abah melihat sebentar foto tersebut. Lalu dengan tenang beliau berkomentar; “Pangeran Diponegoro”. Komentar telak. Kami tak berkutik. Salah langkah semuanya. Hahaha.

Kami akhirnya tutup pembicaraan pagi itu dengan welfie. Saya menduga, kalau abah tahu gaya anak muda kekinian ketika selfie; seperti mengangkat dua jari atau merubah-ubah mimik seolah kaget dan gaya yang lain, mungkin abah akan mengikuti jejak kami. Belakangan saya tahu, abah bernama Hamzah. Nama yang tersemat juga pada Fahri.

Saya dan kawan-kawan masuk ke rumah panggung tempat kami beristirahat. Rumah yang pernah juga menjadi tempat istirahat sahabat dalam suka dan duka perjalanan dakwah; Tifatul Sembiring, Anis Matta, Ahmad Riyaldi, Habib Aboebakar Al-Habsy, DR. Surahman Hidayat, juga Anton Apriantono. Mungkin juga tokoh PKS lain yang lupa disebutkan kepada saya.

Rumah panggung ini seperti halnya Abah Fahri. Tua, renta, dan menuju senja. Tapi setiap sisinya setia menyimpan kenangan akan cinta, persahabatan dan ketulusan.

* Catatan Perjalanan Fahri Hamzah ke Lombok-NTB (2-5 Juni 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *