Paru cs Gagal Memahami Substansi Replik

Pernyataaan Zainudin Paru yg menyatakan Fahri Hamzah tidak konsisten dan melakukan kebohongan publik tidak memiliki dasar pijakan dan bisa dinilai sebagai pernyataan provokatif untuk memunculkan kebencian orang terhadap Fahri Hamzah. Paru juga ingin membelokkan seolah-olah Fahri sedang berhadapan dengan partai.

Pernyataan Paru menampilkan kegagalannya dalam memahami substansi replik yang disampaikan oleh tim kuasa hukum Fahri Hamzah dalam lanjutan sidang di PN Jaksel hari Senin 6 Juni kemarin. Pribadi atau individu yang disebutkan dalam replik berikut jabatannya dalam partai jelas disebut telah menggunakan jabatan partai untuk melakukan tindakan melawan hukum.

Oleh sebab itu Paru diminta menjaga nama baik PKS, partai yang ikut didirikan oleh Fahri Hamzah. Pernyataannya kemarin seusai sidang bisa semakin membuat masyarakat sinis kepada PKS dan membuat posisi kader di bawah dalam posisi sulit dan terjepit.

Sejak awal gugatan Fahri Hamzah konsisten bahwa yang digugat adalah tindakan, putusan yang dilakukan para tergugat yang telah menggunakan partai sebagai tameng untuk memecatnya. Padahal sejatinya merekalah (oknum elit PKS) yang menyalahgunakan kekuasaan. Karena itulah mereka harus bertanggungjawab atas tindakannya secara hukum dan dalam konteks itulah gugatan ini harus dipahami.

Selain itu Zainudin Paru kerapkali menggunakan terminologi pembangkangan, bohong, tidak taat. Jika bicara fakta, pernahkah ada satu pucuk surat peringatan atau notulensi hasil rapat resmi yang memberikan peringatan kepada Fahri Hamzah?

Dalam alam demokrasi dan reformasi yaang telah juga ikut diperjuangkan oleh Fahri Hamzah sejak awal, perbedaan pendapat menempati posisi tinggi dan perbedaan pendapat tidak bisa dianggap pembangkangan. Betapa otoriter dan berbahaya jika perbedaan pendapat dianggap sebuah ketidaktaatan. Itu adalah cara berpikir lama yg tidak layak ada dalam negara demokrasi.

Zainudin Paru CS diharapkan serius menelaah sisi hukum dari perkara ini dan tidak membuat langkah yang merusak citra partai dan kader di bawah seperti yang telah dilakukan oleh beberapa oknum partai.

Penyebutan beberapa nama yang bermasalah adalah contoh nyata betapa perlakuan terhadap Fahri Hamzah sungguh tidak adil, putusan pengadilan telah menyatakan sebagian mereka bersalah melakukan tindak pidana, sedangkan Fahri Hamzah dalam kedudukannya sebagai wakil rakyat yang memang ditugaskan untuk bicara kadang berbeda dengan kehendak penggugat malah dipecat.

Fakta lain yang tak terungkap dari lokasi sidang hari Senin lalu adalah permintaan kuasa hukum tergugat (Zainudin Paru cs) supaya replik tidak usah dibacakan. Hal itu disampaikan diluar sidang. Di dalam sidang kuasa hukum Fahri Hamzah menyampaikan akan membaca poin-poin penting repliknya. Sekali lagi Paru menyampaikan keberatan tapi majelis hakim mempersilahkan untuk membaca. Hanya perlu 30 menit untuk menuntaskan pembacaan replik dibanding waktu 2,5 jam yang diminta oleh kuasa hukum tergugat ketika membacakan jawaban gugatan pada sidang 2 minggu yang lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *