Fahri Hamzah Arsitek Reformasi DPR

Pimpinan PKS menggunakan pendekatan kekuasaan saat memecat Fahri Hamzah. Sebagai politisi dan salah seorang arsitek reformasi nasional 1998, Fahri Hamzah telah memainkan tugas-tugas jauh ke depan dalam membawa dunia politik praktis di senayan menjadi politik yang berwibawa, “DPR yang kuat” – legislative heavy. Hal mendasar untuk dijadikan sebagai alasan pemecatan tak jelas. Maka tak heran kalau keputusan sela pengadilan atas kasus perdata, gugatan Fahri Hamzah dimenangkan.

Namun sikap PKS tak hadir dalam acara mediasi menunjukan PKS tak bersikap negarawan dalam berpartai. Partai modern menghendaki peran DPR yang maksimal, mendapat dukungan media massa dan publik dalam tugas-tugasnya. Jadi “esensi to parle” (berbicara, berbicara dan berbicara) untuk kepentingan rakyat, kepentingan bangsa, dan artikulasi misi partai PKS yang kritis sudah didarmakan oleh Fahri Hamzah. Ini sebuah ironi dalam negara demokrasi.

PKS tak berjiwa negarawan dalam mengelola partai politik. Itu pendapat Sidratahta Mukhtar, dosen senior ilmu politik UKI, dosen PTIK (2003-2015) sedang menyelesaikan program doktor di UI, dan penulis buku, “Politik Islam dalam Dunia yang Berubah” (2014), dan karya terbaru “Posisi Polri dibawah Presiden, Praktek Demokrasi dan Kepolisian.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *