Terima Kasih Fahri…..

Fahri Hamzah hari ini meluncurkan 2 buku terbarunya. Selama menjabat anggota DPR RI di Senayan, Fahri sudah meluncurkan total 9 buku;
1. Negara, Pasar dan Rakyat
2. Kemana Ujung Century
3. Demokrasi Transisi Korupsi
4. Negara, BUMN dan Kesejahteraan Rakyat
5. Mengapa Indonesia belum Sejahtera
6. Arah Baru Kebijakan Kesejahteraan Indonesia
7. Gelora Kata-kata
8. Arah Baru Pemberantasan Korupsi
9. Daulat Rakyat

Dua judul buku terakhir adalah buku yang diluncurkan hari ini (27/9/2019) sekaligus sebagai tanda Fahri pamit dari DPR RI. Ya, per 1 Oktober 2019, Fahri tidak lagi berkantor di Senayan. Amanah menjadi wakil rakyat di parlemen sudah dia tunaikan dengan baik, mungkin peluncuran dua buku ini bagian dari tanda-tanda Fahri mengakhiri amanahnya dengan “husnul khotimah” tidak dengan rompi oranye.

9 buku ini mungkin menjadi rekam jejak Fahri selama bertugas di parlemen, buku-buku karya Fahri termasuk buku “berat” karena padat content dan pikiran-pikiran. Tetapi publik bisa memahami pikiran-pikiran Fahri lewat bukunya secara mendalam walaupun sebagian besar lebih menikmati pikiran Fahri lewat televisi atau orasi-orasinya yang bisa dinikmati via youtube.

Profil Fahri adalah profil yang selalu menjadi magnet publik dalam narasi-narasinya di parlemen. Yang jelas posisi Fahri sebagai wakil ketua DPR RI periode 2014-2019 membuat Fahri banyak punya panggung untuk mengartikulasikan narasi-narasinya. Pro-Kontra selalu terjadi ketika Fahri menyampaikan narasi-narasinya, tetapi itu membuat pikiran-pikiran publik menjadi terbuka dan dinamis. Bahkan kadangkala Fahri berhasil membuka banyak hal yang biasanya “tabu” diungkap ke publik. Contohnya konsistensi Fahri ketika mengkritisi institusi KPK, bahkan di akhir masa jabatannya Fahri masih harus menghadapi gempuran kritik terkait revisi UU KPK, padahal revisi UU KPK adalah produk DPR RI dan Pemerintahan Jokowi, cuma memang Fahri bertindak sebagai algojo yang ketok palu pengesahannya.

Ketika Fahri tidak lagi duduk di DPR RI apalagi di posisi pimpinan DPR RI, mungkin Pak Jokowi akan kehilangan “sparing partner” yang tangguh, cerdas dan militan. Publik sangat paham, kalau Fahri sering memberikan kritikan pedas terhadap pemerintahan Jokowi, tetapi itu Fahri lakukan sebagai vitamin untuk pemerintahan Jokowi. Fahri bisa sangat pedas kritikannya kepada kinerja Jokowi, tetapi dalam situasi lain, Fahri juga bisa membuat Jokowi terpingkal-pingkal ketika ada kesempatan bertemu dan bertatap muka dengan Jokowi.

Dalam agenda pawai kebangsaan yang di gagas Fahri lewat Keluarga Alumni Kammi dan Ngopi Bareng Fahri yang di inisiasi Fahrivoice, Fahri berkeliling nusantara untuk bertemu langsung dengan masyarakat, bertatap muka dan berdialog langsung tentang situasi bangsa. Fahri bertemu haters dan lovers dirinya. Bahkan Fahri menantang para haters-nya untuk mengajukan pertanyaan atau membantah narasi dan pikiran-pikirannya secara langsung, adu argumentasi, dan berdebat. Semua kritikan pedas dan bantahan dari para haters dijawab secara ksatria oleh Fahri dengan lugas dan argumentatif. Bahkan tidak sedikit para haters berubah menjadi lovers ketika menghadapi argumentasi-argumentasi Fahri. Dalam suatu kesempatan acara ngopi bareng Fahri di suatu daerah, sebagian besar yang hadir adalah haters, dan siap dengan pertanyaan dan pernyataan pedasnya. Dihadapi Fahri dengan ksatria, kritikan pedas dijawab dengan fakta dan data, pernyataan-pernyataan nyinyir dijawab dengan logika-logika argumentatif, dan diakhir sessi para haters pun berebutan “selfie” dengan Fahri.

Apalagi kisruh antara Fahri dengan partainya, membuat Fahri dijauhi oleh kader partainya sendiri, bahkan partai menginstruksikan para kadernya untuk tidak bertemu atau menghadiri forum-forum dimana Fahri ada disitu. Tapi Fahri adalah Fahri, “asli”. Fahri tetap dengan semua keyakinannya, yakin semua dengan pilihan hidupnya walaupun kadang kala melawan arus dan tidak populis. Pilihan Fahri melawan partainya lewat pengadilan pada akhirnya banyak membuka mata kader partainya tentang arti berjamaah dan bernegara. Pikiran-pikiran usang yang tidak lagi relevan dengan zamannya perlahan mendapat perlawanan dan menjelma menjadi arah baru.

Terlepas dari semua pro-kontra tentang Fahri, publik harus berterima kasih, karena kehadiran Fahri dengan narasi dan pikiran-pikirannya banyak memberikan perspektif mendalam ke publik. Fahri orang yang ketika bicara selalu berbasis data dan argumentasi yang dalam. Tidak asal ngomong, selalu mendalam argumentasinya. Apalagi posisi sebagai wakil ketua DPR RI memungkinkan Fahri memiliki banyak informasi dan data akurat dari sumber-sumber utama. Jadi urusan akurasi data tidak bisa diragukan lagi, bahkan data-data yg tidak bisa di dapat dari sumber terbuka Fahri punya.

Ketika Fahri dipecat dari partainya, Fahri melawan lewat jalur hukum dan menang. Menang di pengadilan sampai tingkat MA adalah bukti bahwa argumentasi pembelaan yang dilakukan Fahri berdasarkan fakta-fakta hukum, bukan sekedar membangun opini seperti halnya yang dibangun partainya.

DPR periode mendatang, entah siapa lagi figur yang bisa menggantikan posisi Fahri sebagai dinamisator opini publik lewat parlemen, yang jelas Fahri sudah tidak akan lagi duduk di parlemen. Tapi bagi para anggota dewan yang 1 Oktober 2019 nanti di lantik bolehlah belajar dari Fahri Hamzah, ada beberapa hal yang bisa kita ambil pelajaran dari rekam jejak Fahri Hamzah :

1. Pola fikir “Big Picture” & Sistem.
Fahri Hamzah dalam narasi-narasinya selalu memulai dengan “big picture” , memulai dengan gambar besarnya. Karena Indonesia dan demokrasinya harus dilihat holistik tidak sepotong-potong. Fahri berkeyakinan bahwa bangsa ini bergerak dan bertumbuh harus “by design”, dengan pemahaman yang komprehensif serta pengetahuan yang kuat. Gambar besar Indonesia dan demokrasi pada ujungnya akan menggiring bangsa ini berfikir dan bekerja dengan sistem. Demokrasi adalah sistem, dan era transisi demokrasi adalah era penguatan sistem demokrasi begitu juga penguatan institusi dan instrumen demokrasi.

2. Pembelajar.
Fahri Hamzah latar belakang pendidikannya adalah Fakultas Ekonomi UI, bukan hukum dan juga bukan Fisip, tapi ekonomi. Tapi Fahri lebih dikenal kiprahnya di parlemen di Komisi 3 yang membawahi hukum. Polri, kejaksaan, kehakiman dan KPK adalah mitra kerja komisi tiga. Narasi Fahri tentang sistem hukum, penguatan institusi penegakkan hukum serta pemberantasan korupsi menjadi issue publik yang banyak dibahas oleh Fahri. Ini membuktikan bahwa Fahri adalah seorang pembelajar cepat, bidang yang diluar latar belakang pendidikannya bisa dia geluti dan “expert”.

3. Bernyali
Urusan nyali, Fahri tak diragukan, selama dia yakin benar maka nyali Fahri selalu menyala.

Tiga karakter inilah sebenarnya yang harus dimiliki oleh para anggota dewan atau pejabat publik. Memahami “big picture” dan berfikir sistem akan membuat setiap argumentasi selalu kontekstual dan relevan. Karakter pembelajar membuat selalu bisa beradaptasi dengan segala situasi. Dan bernyali membuat individu punya determinasi terhadap tujuan-tujuan hidupnya.

Terima Kasih Fahri….semoga akan lahir Fahri-Fahri baru di parlemen mendatang….

“AW” Senayan, Jumat 27 September 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *