Menyiapkan Karung

Menyiapkan Karung

Oleh: Erizal

Walaupun melalui pengacaranya, Fahri Hamzah (FH) terlihat mulai ofensif. Dia langsung menagih petinggi PKS sebagai pihak-pihak yang bersengketa dengannya dalam kasus pemecatan dirinya sebagai anggota dan Wakil Ketua DPR, juga kader PKS dari seluruh jenjang keanggotaan.

Padahal baru sehari salinan putusan kasasi MA itu diterima. Angka 30 miliar yang tertera dalam putusan itu sebagai bentuk kerugian imaterial yang dialaminya ditagih langsung dan hanya diberikan waktu seminggu untuk direalisasikan. Waktu seminggu terasa singkat dan terburu-buru.

FH mulai ofensif? Cerita apa pula itu. FH itu orangnya bahkan, tidak sekadar ofensif, tapi over-ofensif. Tapi, dalam sengketa dengan petinggi PKS sebenarnya dia hanya defensif, bertahan. Yang ofensif justru petinggi PKS. Lihatlah, dalam sekejap FH telah berstatus orang asing di PKS.

FH diserang bertubi-tubi bahkan karung seperti sudah disiapkan. Akrobat politik petinggi PKS tak hanya ke dalam, juga keluar. Awal-awal tak mudah juga FH membangun pertahanannya. Hampir tak ada celah, serangan itu bergelombang. Petinggi PKS begitu fresh, dan tak ada ampun.

Kadang orang yang terlalu asyik ofensif, lupa akan pertahanannya. Walaupun ada kaidah, pertahanan terbaik itu ialah menyerang. Tapi itu hanya mudah menyebutkannya, prakteknya sulit. Menyerang-bertahan sama baiknya, itulah kesempurnaan. Dan itu tak bisa diraih dalam semalam.

Saya sendiri diingatkan seorang pitinggi PKS di Sumbar. “Sudahlah, Erizal, FH itu sudah selesai. Tak ada yang menang melawan partai ini!” “Ya, saya paham, “jawab saya. Tapi, saya tak mungkin meninggalkan FH dan saya lebih tak mungkin lagi ikut menyerang FH seperti yang lain.

Saya langsung bertemu FH, setelah dia dipecat. Di dalam mobilnya, seperti belasan tahun yang lalu, kami bercerita panjang dari hati ke hati. Saya langsung bisa menyimpulkan, bahwa tak ada yang berubah dari FH. Tapi ini memang ada masalah dan rumit sekali. Banyak yang tak tahu.

Pelan-pelan FH membangun pertahanannya. Tak ada yang peduli dan menganggap urgen usahanya itu. Tak ada usaha untuk mencegahnya, bahkan seperti meledek. Di dalam FH semakin hancur. Jalur hukum yang ditempuh, bahkan menambah alasan petinggi PKS membenamkannya.

Tapi satu yang tak disadari petinggi PKS bahwa ternyata FH tidak lagi milik PKS semata, tapi sudah menjadi milik publik. FH mendapat dukungan dari mana-mana. Petinggi PKS berhasil mendongkelnya di dalam, tapi di luar, dia tetap eksis. Narasi petinggi PKS menerpa ruang hampa.

Bahkan, pasca menang kasasi di MA pun narasi buruk dari kader-kader PKS terhadap FH tak berkurang. Muncul gerakan “Koin buat Fahri” untuk melecehkan. Foto-foto koin diiringi kata-kata “kasek” berseliweran. Tak ada yang menang melawan partai ini terbukti pula dalam versi lain.

Bak pepatah Minangkabau, hidup bak roda pedati, sekali di atas sekali di bawah. Kini FH berada di atas. Kalau dulu dia yang disiapkan karung, kini dia harus menyiapkan karung. Bahkan tak sekadar karung, tapi kontainer. Maklum, bagaimana membawa koin yang sudah disiapkan itu? Hehehe

Dan tak pakai lama, lewat pengacaranya, FH langsung pula menagih. Hampir tak ada lagi petinggi PKS yang bersuara. Mereka yang ofensif dulu, kini benar-benar tiarap seolah-olah lepas tanggung jawab. Beredar di medsos, semua kader harus diam! Biarkan kuasa hukum yang bicara.

Padahal, baru saja mereka menyerang Rama Pratama yang sejak awal bergabung dengan Jokowi-Ma’ruf. Entah apa urusannya? Pakoknya ada saja. Satu perang belum selesai, sudah dibuka perang baru. Entahlah, karung siapa nantinya benar-benar terisi, kita dilihat saja? Foto saya bagi-bagi isi karung beredar pula. Mati saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *