Catatan Kunjungan Bersama Fahri Hamzah ke Bumi Serambi Mekkah: Menyusuri Cahaya di Aceh (2)

Pesawat yang kami tumpangi menerbangkan kami tepat pukul 06.30. Saya tak terlambat datang ke Bandara. Sejak semalam saya mengalami gangguan. Baterai gawai saya tak penuh-penuh juga. Saya terlambat mengisi baterai malam itu. Untungnya saya sempat membaca pesan bang FH tentang catatan garis besar rilis yang akan disampaikan ke media tentang maksud kedatangan dirinya dan rombongan ke Aceh mewakili DPR RI.

Bang FH mengatakan bahwa kedatangannya adalah tugasnya sebagai pimpinan DPR  untuk memastikan pelayanan cepat dalam mengatasi dampak bencana. Selain itu, ia ingin mendengar langsung apa yang menjadi keluhan warga korban gempa dan pengungsi.

Yang ketiga, ia ingin mendapatkan hasil identifikasi kebutuhan apa yang harus segera terpenuhi oleh pengungsi dan bantuan seperti apa yang akan diterjunkan untuk memperbaiki daerah-daerah yang terkena gempa ini. Dan yang terakhir perihal sumbangan pribadi yang rencananya akan ia sampaikan ke Pemda setempat untuk diteruskan kepada korban gempa.

Saya duduk di ruangan tunggu bandara dan membuat konsep rilisnya. Karena baterai gawai berada dalam kondisi kritis, maka saya segerakan konsep itu, disimpan dalam draft lalu mematikan alat komunikasi saya. Perjalanan ke Banda Aceh saya lalui sebagian dengan tertidur.

Beberapa waktu sebelum mendarat, saya sempat melihat tanah dan bukit Aceh yang hijau. Alam sudah menyembuhkan dirinya. Setiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, yang saya lihat sungguh berbeda. Bandara nampak lebih besar. Beberapa fasilitas Bandara sudah jauh berubah dari tahun ke tahun. Papan reklame besar bertuliskan ajakan untuk mendukung Aceh sebagai Destinasi Wisata halal terbaik dunia (The World’s Best Halal Cultural Destination 2016).  Branding baru pariwisata Aceh bertulis “The Light of Aceh” terpampang besar.

Tiba di VIP Room, kami disambut hangat oleh Assisten 1 Pemprov Aceh Muzakkar A Gani. Gubernur sedang ada di Jakarta. Tak sampai setengah jam istirahat, kami putuskan untuk langsung mencicipi masakan khas Aceh sambil membicarakan rute perjalanan. Anggota DPR RI asal Aceh seperti Nasir Jamil dan Fadhullah yang sejak awal ada dalam rombongan, akan menjadi pemandu rute perjalanan.

Tak sampai tiga puluh menit berkendara, kami sampai di warung kopi Aceh yang sangat ramai. Beberapa pasang mata memperhatikan kami. Sebagian malah menyapa dan bersalaman. Sedikit berbincang-bincang. Rupanya anggota DPR dari Aceh cukup dikenal masyarakat. Kami mengmbil meja yang panjang dan mulai memesan makanan di warung kopi besar di simpang tiga itu. Warung kopi itu bernama “Dapur Kupi”. Buka 24 jam, sesuai tulisan di papan.

Warung kopi itu jamak di Aceh. Jumlahnya ribuan. Di setiap jalan atau simpang jalan pasti akan kita dapati dengan mudah. Warung kopi seperti bagian dari tradisi turun menurun masyarakat. Ia lekat dalam kehidupan sosial orang Aceh. Baik pagi, siang, sore maupun malam, warung kopi selalu buka. Bahkan warung yang menjual makanan pun kadang menjual minuman kopi khas Aceh.

Kopi Aceh terkenal sejak masa lampau. Bahkan sejak zaman Kerajaan Aceh berdiri. Bahkan, kopi hasil perkebunan rakyat di Aceh masuk dalam jajaran kopi premium dalam pasar dunia. Kopi Aceh yang terkenal adalah kopi yang berasal dari Gayo dan Ulee Kareng. Rakyat menjual kopi dan hasil perkebunan lain. Juga menggunakannya untuk keperluan rumah tangga. Hasil olahan biji kopi dibeli dan dijual sebagai bahan minuman yang disajikan di warung-warung.

Bahkan pengolahan minuman kopi ala Aceh-pun terbilang unik. Bubuk kopi tidak sekedar diseduh dengan air panas tetapi dimasak. Itulah yang menyebabkan aroma dan citarasa kopi Aceh benar-benar kuat. Air kopi yang telah dimasak dan panas ini kemudian mengalami beberapa kali proses penyaringan menggunakan saringan berbentuk kerucut. Gerakan pembuat kopi Aceh yang menarik dan menangkap air kopi jadi tontonan menarik tersendiri. Salah satu yang menjadi tontotan wisatawan jika berkunjung ke Aceh adalah atraksi pembuat kopi.

Kalau tak salah lihat, makanan pagi yang kami makan-pun merupakan makanan khas Aceh. Namanya Nasi Guri atau Nasi Gurih. Sejenis masakan nasi yang cara memasaknya menggunakan santan dan menyajikannya bersama bawang goreng, daging atau telur dan belacan. Di tiap warung penyajiannya berbeda. Nasi gurih juga menyebar ke berbagai daerah diluar Aceh. Terutama di Sumatra. Nasi Gurih juga berkembang di sepanjang daerah pesisir rumpun Melayu.

Kalau kita ke Malaysia, maka akan kita temui juga makanan yang mirip dengan Nasi Gurih. Namanya Nasi Lemak. Dibungkus dengan daun pisang dan menjadi makanan sarapan masyarakat di banyak kampung.

Kami makan dan minum dalam porsi kecil. Sembari mencicipi makanan dan kopi, kami berdiskusi sebentar tentang titik kunjungan. Kami akan berkunjung ke Rumah Sakit di Pidie, lalu melanjutkan ke Pidie Jaya di beberapa lokasi. Selanjutnya ke Bireun dan kembali ke Banda Aceh. Saya dan bang FH masih  berdiskusi tentang pilihan redaksional rilis. Nama-nama anggota DPR RI yang berangkat duluan masih menyusul.

Bismillah, setelah selesai makan dan foto bersama, kami lanjutkan perjalanan menuju Pidie. Menyusuri beberapa daerah di Aceh. Melihat pendar-pendar cahaya.

(Bersambung ke Bagian 3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *