Catatan Kunjungan Bersama Fahri Hamzah ke Bumi Serambi Mekkah: Yang Kokoh Membaja (1)

Mengingat Aceh adalah mengingat banyak hal. Kebesaran, keteguhan dan kepahlawanan. Sejarah masa lalu Aceh selalu sejarah tentang kebanggaan. Aceh pernah mengalami masa kegemilangan dimana kerajaan-kerajaan lampau ditempat Aceh sekarang berdiri adalah kerajaan yang mahsyur dalam catatan banyak pengelana dan penulis sejarah. Kemahsyuran itu tersebab karena kemakmuran dan kepemimpinan dalam perdagangan di kawasan sekitar.

Sebab lain kemahsyuran Aceh juga karena watak orang-orang Aceh yang teguh memegang prinsip. Kehendak rakyat Aceh untuk berdiri merdeka di atas kaki tanahnya sendiri seperti mantra kehidupan yang diwariskan dan tak pernah terputus. Maka melihat sejarah Aceh selalu saja melihat orang-orang yang gagah karena keteguhannya. Juga orang-orang yang teguh membangun kegagahan Aceh. Di tiap generasi kita melihat orang-orang itu.

Nama-nama seperti Sultan Malik as-Saleh, Laksamana Malahayati, Ratu Nahrasyiyah, Sultan Iskandar Muda, Panglima Polem, Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan banyak lagi gemintang yang berpendar terang di langit sejarah tanah Aceh. Mereka bersinar dengan cerita-cerita menakjubkannya sendiri. Dan kita dibuat terkagum-kagum nan bangga. Seperti getar keinginan yang terus menerus hidup dalam hati kita untuk mengikuti jejak, menjadi apa yang orang sebut; pahlawan.

Jika membaca Aceh adalah membaca kebanggaan, maka melihat Aceh adalah melihat ketakjuban. Saya pernah beberapa kali mengunjungi Aceh. Tapi yang paling berkesan adalah saat mengunjungi Aceh kira-kira sekitar 12 tahun yang lalu. Awal 2005. Sebulan lebih atau dua bulan setelah Tsunami Aceh. Saya masuk dalam kelompok relawan gelombang kedua dari sebuah organisasi. Kami diberangkatkan dengan misi recovery mental pengungsi. Saya bertugas selama sebulan lamanya.

Di sana saya ditempatkan di sebuah Kabupaten. Kira-kira tiga jam perjalanan dari Banda Aceh. Selain korban jiwa yang demikian besar, pengungsi tsunami terbesar dunia di era modern itu juga menyebabkan gelombang pengungsi yang sangat luar biasa banyak. Mereka menyingkir di sekitar daerah pegunungan dan ribuan lokasi yang dibuat oleh lembaga kemanusiaan dari berbagai negara dan organisasi. Organisasi saya sendiri mengelola pengungsi yang menetap di masjid-masjid kampung di kabupaten di sekitar Banda Aceh.

Dalam ingatan saya, saya melihat orang-orang Aceh memang luar biasa. Cobaan sedahsyat itu dan mereka yang saya temui di tempat saya bertugas adalah orang-orang yang baja. Senyumnya masih mengembang. Lebar dan indah. Anak-anaknya masih senang mengaji dan bercanda. Beberapa kali saya dan kawan-kawan relawan lain diajaknya berjalan-jalan di bukit-bukit. Duduk berlama-lama melihat lembah dan foto bersama. Di warung kopi di samping tempat tinggal saya, orang-orang berbincang tentang banyak hal dengan tenang. Gusar sudah jauh hari pergi. Berganti keramahan yang tak habis-habis.

Kenangan itu melekat sampai kini. Dalam tahun-tahun berikutnya ketika saya berkunjung ke Aceh, jiwa yang baja itu makin kokoh saya dapati. Saya seperti disapa oleh ketenangan yang berlebih. Mungkin saja ini tentang seni mengelola jiwa. Mungkin saja orang-orang Aceh cukup indah menari diantara sedih dan luka. Ia endapkan dalam kolam perasaan yang dalam. Yang nampak hanya tawa. Tapi saya percaya, inilah warisan dari moyangnya. Warisan mahal bernama ketegaran.

Hingga kemarin, Minggu dan Senin pekan kedua Desember 2016, saya diberikan kesempatan untuk mengunjungi Aceh lagi. Membersamai Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, beberapa anggota DPR dan staf serta kawan-kawan dari beberapa media. Saya tentu saja bahagia sekali. Seperti kesempatan langka untuk menimba pengetahuan dan kearifan hidup orang-orang Aceh.

Karena perjalanan kami direncanakan pagi hari, maka saya berniat untuk tak tidur malam itu. Mungkin tidur sebentar saja. Agar tak terlewat dengan jadwal keberangkatannya. Staf yang mengurus tiket dan perjalanan mewanti-mewanti agar kami sudah berada di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 05.00 pagi.

Saya tak butuh persiapan panjang untuk berangkat. Cukup baju selembar dua lembar dan peralatan seadanya. Sesuai jadwal, kami ada di Aceh dua hari lamanya. Hingga hari Senin. Rencananya, saya akan mengisi malam minggu itu dengan berbincang bersama kawan saya hingga menjelang pukul 22.00. Lalu selanjutnya  menonton midnight sendiri. Setelahnya pulang dan berbaring sebentar lalu mengisi malam dengan aktivitas biasa.

Malam itu, sekitar pukul 22.00 menjelang jadwal film midnight. Saya duduk di kursi tunggu. Di depan saya tiga orang perempuan dan seorang anak. Berbincang dengan bahasa daerah yang asing tapi samar saya ingat. Sepertinya mereka bercerita tentang kampung mereka. Tentang kenangan masa kecil. Tentang masa lampau dan gedung bioskop tua di pusat kota. Juga tentang saudara dan kawan kecil mereka. Selainnya saya tak mengerti. Mereka juga melihat saya.

Saling memperhatikan lama, mungkin mereka dan saya merasa. Saat waktu masuk ke gedung teater tiba, saya berdiri, tersenyum dan menyapa; “Liburan ya ibu-ibu ?”. Ibu-ibu tersebut akhirnya tertawa.

“Iya nih pak”, jawab salah satu ibu yang paling tua. Seperti pimpinan rombongan.

“Dari Aceh ya ?” Saya menebak. Ibu-ibu tersebut seperti kaget. Dari mukanya yang kaget dan seperti mau tertawa, saya menangkap jawaban. Tebakan saya benar sekali.

“Besok subuh insya Allah saya ke Aceh”, kata saya menyambung. Lagi-lagi dengan senyum mengembang.

Dan selanjutnya perbincangan kami dipenuhi oleh cerita tentang gempa, lokasinya, jadwal penerbangan, pekerjaan. Hingga film diputar di layar. Saat keluar dari gedung teater saya pamit duluan dan berucap ke mereka; “sampai jumpa di Aceh ya”.

Mereka mengirimkan isyarat. Mengangguk dan tertawa.

(Bersambung ke Bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *