Partai Ini Bukan Punya Kita

Ada yang menarik di PKS yaitu beberapa doktrin yang menjadi kesadaran dasar.

Misalnya salah satu doktrin yang mengatakan bahwa “Partai bukan punya kita tapi punya Tuhan.”

Doktrin ini menurut saya kompleks tetapi sangat modern.

Ini tentu bermuara pada banyak filsafat moderen yang materialis atau yang idealis.

Doktrin PKS sebagai partai Islam tentu dekat dengan kaum idealis.

Eric Fromn misalnya dalam To Have or to Be?. 

Fromn mengkritik masyarakat modern yang semakin ingin MENGUASAI daripada MENJADI.

Di sini Doktrin PKS mendapat tempat bahwa partai bukan punya kita. Jangan terlalu ingin memiliki, dia punya Tuhan.

Ada bahaya kalau kita terlalu ingin memiliki. Jiwa kita tertawan, kita terbelenggu, kata Fromn.

Kekuasaan juga demikian, termasuk kekuasaan dalam partai dan negara.

Kekuasaan dan jabatan dalam partai dan negara tidak boleh dimiliki, dia hanya diperankan.

Jika kita terjebak memiliki, itulah yang membuat kita menjadi otoriter.

Ini yang disebut sindrom Louis IV di Perancis, ketika dia mengatakan L’Etat c’est Moi, Negara adalah Aku.

Maka jadilah pejabat itu semau gue. Kritik kepada dia dianggap membahayakan negara.

Memori kita kembali ke orde baru, ketika obsolutisme menguat. Kritik kepada pejabat jadi bencana bahagia rakyat.

Itukah harapan PKS sebagai partai modern?

Dalam PKS sangat jelas antara struktur dan pribadi. Seperti prinsip demokrasi.

Manusia dan pimpinan datang dan pergi, partai dan strukturnya bertahan

Maka kesalahan pribadi bukan kesalahan partai. Pimpinan bukan Partai, Partai bukan Pimpinan.

Rasanya kesadaran ini adalah kesadaran yang modern tentang organisasi.

Maka dalam partai pimpinan yang harus sadar diri dan penuh kerendahan hati.

Loyalitas dan kepercayaan kepada pimpinan sangat terkait kepada kapasitas dan kejujurannya sebagai pimpinan.

Loyalitas tidak otomatis didapatkan begitu memegang kuasa, tapi oleh rasa.

Kekuasaan bukan hak milik yang mutlak tapi amanah dan pertanggungjawaban.

Maka agak kaget kita mendengar sebagian kosakata pimpinan PKS belakangan ini.

Mereka menganggap pimpinan tidak boleh didebat, keputusannya mutlak. Padahal menerabas ruang publik negara.

Memerintahkan pejabat publik mundur menurut saya adalah pelanggaran berat kepada hukum tata negara.

Sehingga itu saya jadikan perdebatan tapi didalam dijadikan dasar tindak indisipliner.

Di jaman dahulu saya sering berbeda pendapat dengan pimpinan partai, biasa saja.

Karena partai dipimpin oleh manusia biasa, pasti mungkin salah dan lupa.

Sehingga loyalitas kepada manusia sangat terkait dengan loyalitas kepada hukum.

Inilah modernitas PKS yang saya ikut bersama sejak awal.

Dulu banyak yang kritis kepada pimpinan. Termasuk yang menjabat sekarang. Tapi dianggap wajar.

Dulu banyak yang menulis bahkan menyerang ceramah dan kebijakan partai, biasa saja. Tetap boleh jadi kader.

Dulu banyak yang menyerang pikiran pimpinan dan menulis kritik di media dibiarkan.

Karena bukankah kita hidup dalam demokrasi? Bukankah di sini pikiran diadu?

Muara dari kekakuan ini karena kita ingin memiliki (partai ini) di sini salahnya.

Sewaktu Presiden PKS bilang bahwa saya disuruh minta maaf kalau mau kembali artinya hukum negara gak dianggap.

Gugatan saya kepada negara adalah kesadaran sebagai warga negara hukum.

Hukum negara harus lebih tinggi dari hukum partai. Begitulah.

 

(Kultwit @Fahrihamzah 17:28 · 19 Apr 2016)

11 thoughts on “Partai Ini Bukan Punya Kita

  1. bung fachri, jangan kecewakan konstituen dan orang yg mempercayakan amanah kepadamu.
    teruskan perjuangan.

    ikhwan wa akhwat …

    mari ikut perbaiki system…
    ini bukan perkara fachri semata

    ana – “orang lain di pks”

  2. “Sdr Fahri boleh saja kembali ke PKS asal dia bertaubat”

    Qiyadah MSI = Allah Swt

    Na’udzubillah tsumma na’udzubillah

    Kalau Kader yg korupsi, di bui, yg senonoh, yg berbuat mesum tidak dipecat dari partai dan tidak usah bertaubat?

    Ada yg bisa jawab mewakili MSI atau MSI nya sendiri yg menjawab…

    1. agenda dakwah melanjutkan bukan mengubah apalagi mengganti. ingat banteng yg tersisa bisa jadi tinggal banteng hitam di partai ini…

  3. Ayo adakan islah dong bung FH
    anda bisa mengalah sedikit dg meminta maaf dahulu (meski benar)
    datangilah kanto dpp pks
    akhlak ini lebih mulia daripada berlarut-larut masalahnya
    ayo kita akhiri drama ini
    semoga berakhir dg pertaubatan kedua belah pihak
    amiiin ya Rabb

  4. untuk saat ini saya lebih percaya … dengan gaya, sifat dan karakter pak fahri memang lebih cocok diluar PKS. daripada didalam merasa terkungkung … ditempat lain mungkin lebih bisa berkarier lebih baik.
    tapi … tetap beri respek kepada PKS, karena bagaimanapun juga PKS yang juga ikut membesarkan pak fahri.

      1. Bukannya yang membesarkan pak fahri hamzah adalah pks, tanpa pks sebelumnya dikenal orang gak ?…… ketokohan di pks ngak sama dengan di partai lain….

  5. Dalam tulisan ini bang FH menyatakan:
    “…
    Memerintahkan pejabat publik mundur menurut saya adalah pelanggaran berat kepada hukum tata negara.

    Sehingga itu saya jadikan perdebatan tapi didalam dijadikan dasar tindak indisipliner.
    …”

    Menanggapi tulisan ini, saya ingin bertanya, apakah bang FH masih ingat nasyid tentang ‘Tekad’ yang dibawakan oleh IZZIS? di dalamnya terdapat syair-syair yang luar biasa dalam penggambaran seorang kader dakwah sebagai seorang jundi.
    Sebagai jundi, hal ini adalah hal lumrah untuk dimengerti apalagi sekaliber bang FH. Hanya mengingatkan, no offense.

    Mari kita lihat sejarah bagaimana ketika ‘Umar ibn Khattab yang geram dengan Khalid ibn Walid pada saat masa ke khilafahan Abu Bakar As Shidiq, dimana Khalid yang sedang memimpin pasukan muslimin untuk melakukan futuhat sampai pada Persia, Khalid dianggap “melakukan kesalahan” oleh ‘Umar (yang pada saat itu berada di pusat kekuasaan ummat Islam, di Madinah dengan Abu Bakar) karena telah meninggalkan pasukannya untuk sementara waktu (karena pada saat itu Khalid ingin cooling down sebentar setelah melakukan banyak peperangan dengan melakukan umrah). Singkatnya, ketika tampuk kekuasaan telah berpindah ke tangan ‘Umar setelah wafatnya Abu Bakar, kegeraman ‘Umar pun terhadap cara Khalid yang seperti itu menuai keputusan untuk menghentikan kepemimpinan Khalid ibn Walid dan digantikan oleh Abu Ubaidah ibn Jarrah. Ketika Khalid menerima keputusan itu, maka ia menerimanya dengan lapang dada dan ketika jabatannya telah turun menjadi pasukan maka ia tetap pada barisan pertama pasukan muslimin.

    Bukankah begitu seharusnya sebagai jundi? siap ditempatkan dimana aja, siap juga untuk ditarik kembali kapan saja (dari hal apa saja, termasuk jabatan). Karena jabatan hanyalah tipu daya dunia semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *